Pertikaian Batin

"Kukira hadirmu untuku menjadikan kita saling tanpa berpaling, ternyata hatimu ada hanya kekosongan saja, perasaanmu berada  di antara ketinggian yang hanya menjadikan ketidak mungkinan"

Masih ku rangkah telinga ini untuk sekedar mendengar suaramu, keluh kesah yang selalu terucap di bibirmu tatkala gelisah menyerang di batinmu.
Masih kugenggam ponsel ini untuk sekedar membalas pesanmu setiap waktu. Pesan yang selalu menjadi notifikasi terpaporit di linimasaku.
Kalimat sederhana yang kutanya bagaimna namun kau jawab "ENTAH" sesederhana itu bukan? Sesederhana perasaanmu padaku seperti halnya centang satu yg tak kunjung membiru.

Lalu aku menyukaimu lewat delusi yang ku bangun sendiri. Merencanakan setiap hal indah di setiap waktu yang kita lewati, kemudian aku membawamu ke batas cakrawala, menikmati keindahan lembayung yang merona seperti pipimu itu, lalu memetik dedaunan senja untuk sekedar kuselipkan di telingamu. 
Kita terus saling menggengam, kita saling merangkul satu sama lainnya, kita saling menguatkan, kita saling tanpa berpaling.

Lalu aku terhipnotis oleh delusi yang kubangun itu, menjadikanya racun yang kian menyerang dibatinku, mengalir ke sekujur tubuh, darahku tercemar oleh luka yang kubangun sendiri, Luka yang kian terasa di setiap detak dada.

ilarobbi



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indahmu Adalah Sajak Tiada Matinya

DETIK SANDYKALA